Yang Masak Batal Wudhu

Relawan yang bertugas di dapur umum dari berbagai daerah. (Fb. M Nur Huda)

TULUNGAGUNG — Kesibukan persiapan Haul Akbar semakin meningkat. Para relawan, baik murid thoriqot maupun muhibbin, mulai berdatangan ke Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) Tulungagung, Jatim, Jum’at (22/09/2017) malam ini.

Para relawan datang dari berbagai daerah. Mereka khidmah menyelesaikan tugas membantu di beberapa divisi seperti konsumsi, perlengkapan, keamanan, acara dan lain-lain.

Salah seorang yang rewang (membantu) di dapur umum adalah M. Nur Huda asal Lumajang. Sejak kemarin, ia sudah bergabung bersama ratusan relawan mengupas sayuran dan menyiapkan segala hal terkait konsumsi.

Salah satu ajaran Guru Agung Romo Kiai Mursyid Thoriqot Pondok PETA adalah batal wudhu. Atau dalam istilah pesantren lazim disebut daa-imul wudhu (melanggengkan wudhu).

Seluruh relawan dan petugas yang menyiapkan makanan dan minuman, harus dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun besar. Ajaran ini berlaku dalam keseharian juru masak di Pondok PETA dan setiap event apapun, termasuk haul.

Jika saat bertugas mendadak wudhunya batal, sontak bergegas mengambil air wudhu. Dawuh batal wudhu ini dipraktekkan seluruh murid Pondok PETA dimanapun dan kapanpun.

Pemasangan tenda haul akbar. (ufi/pondokpeta.id)
Proses pemasangan tenda di depan jalan masuk Kantor Pusat SA78. (ufi/pondokpeta.id)

Selain kesibukan di dapur umum yang berlokasi di kawasan Kantor Pusat Sultan Agung 78, Jl. KH. A. Wachid Hasyim No. 6, Tulungagung, malam ini juga mulai dipasang terop/tenda. Pemasangan dilakukan di sepanjang jalan depan Pondok PETA, membujur dari timur hingga barat.

“Malam ini terop dipasang, tapi pagi siang dan malam besok, lalu lintas tetap berjalan sebagaimana biasa. Toko masih bisa buka,” kata Muhammad Dzulkifli, panitia haul bagian keamanan yang turut memantau pemasangan tenda.

Penutupan jalan baru dilakukan Ahad pagi hingga saat pengajian puncak peringatan haul berlangsung. (ufi/pondokpeta.id)