Kebangkitan Indonesia Diawali Ulama Thoriqot

Rois Aam PBNU Dr. KH. Ma’ruf Amin saat sambutan haul. (dok. mukhtarul jumal)

TULUNGAGUNG — Kebangkitan Indonesia pada akhir abad ke-19 melawan kaum penjajah dimotori oleh para ulama. Lazimnya diistilahkan ulama revival atau islamic revival.

“Indonesia bangkit waktu itu dipelopori oleh para ulama. Dan ulama itu adalah ulama ahli thoriqot. Diawali dari Syib ‘Ali,” jelas Rois Aam PBNU Dr. KH. Ma’ruf Amin dalam sambutan pada puncak peringatan Haul Akbar Masyayikh Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) di Tulungagung, Ahad (24/09/2017) malam ini.

Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menjelaskan, para ulama menjadi motor penggerak kebangkitan Indonesia melawan penjajah salah satunya ditandai dengan Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945. Saat ini, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri.

Dalam sambutannya, cicit Hadlrotus Syekh Nawawi al Bantani ini mengingatkan, kita tengah menghadapi pihak-pihak yang membawa Islam ke arah liberal dan radikal. Padahal, sejatinya Islam berinti pada toleran.

Rangkaian acara haul telah diawali Ahad pagi dengan khotmil qur’an yang berakhir siang. Dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan pengajian malam ini.

Selain Kiai Ma’ruf, beberapa tokoh tampak hadir dan menyampaikan sambutan. Antara lain Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Mayjen (Purn.) Sidarto Danusubroto, dan Wakil Gubernur Jatim H. Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul.

Wakil Gubernur Jatim H. Saifullah Yusuf. (mukhtarul jumal)

Dalam sambutannya, Gus Ipul mengajak untuk meneladani Guru Agung Hadlrotus Syekh Mustaqim bin Husein dan Hadlrotus Syekh Abdul Djalil Mustaqim. Banyak ajaran agung beliau yang seharusnya diamalkan umat, utamanya murid PETA.

“Tiap tahun, yang hadir dalam acara haul bertambah banyak. Tahun ini jauh lebih banyak tahun lalu. Ini menunjukkan bahwa beliau-beliau adalah ulama yang patut diteladani,” kata Gus Ipul.

Usai sambutan Gus Ipul, dilanjutkan pembacaan manaqib Sulthonul Auliya’ Asy Syekh Abil Hasan asy Syadzily Radhiyallahu ‘anhu. Yang bertugas membacakan adalah murid PETA asal Bekasi, Jabar, KH. Agus Salim.

Dr. KH. Ma’ruf Amin juga pengasuh Ponpes asy Syekh Nawawi al Bantani, Tanara, Serang, Banten. (telegram sultan agung 78)

Hadir pula Pengasuh Ponpes KHAS, Kempek, Cirebon, Jabar, KH. Musthofa Aqil Siradj yang juga Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathon, KH. Sholeh Qosim (Pengasuh Ponpes Bahauddin, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo), dan KH. Haidar Muhaiminan (Pengasuh Ponpes Temanggung, Jateng)

Juga murid-murid PETA yang dikenal sebagai ulama dan tokoh nasional. Antara lain KH. Moch. Djamaluddin Ahmad (Tambakberas, Jombang), KH. Chusaini Ilyas (Sooko, Mojokerto), dan Dr. H. Helmy Faishal Zaini (Sekretaris Jenderal PBNU). (ufi/pondokpeta.id)