Buku Manaqib Mbah Djalil

TULUNGAGUNG — “Ngamalno thoriqot ojo niat njaluk jadug. Sing apik njaluk selamet dunyo akhirot, barokah dunyo akhiot, diridhoni Allah Ta’ala.” Kalimat itu merupakan salah satu kutipan dawuh al Maghfurlah Hadlratus Syekh Abdul Djalil Mustaqim, ayahanda Syaikhina wa Mursyidina wa Murobbi Ruuchina Hadlrotus Syekh Charir Muhammad Sholachuddin Al-Ayyubi qaddasallahu sirrahu.

Selama 35 tahun, 1970-2005, Mbah Djalil menjadi pemimpin umat sekaligus mursyid tiga thoriqot agung yakni Thoriqot Syadziliyah, Thoriqot Qodiriyah dan Thoriqot Qodiriyah wan Naqsyabandiyah. Beliau Mbah Djalil telah meletakkan garis-garis besar pendidikan atau “kurikulum” yang berlaku di Pondok PETA.

Rekaman kehidupan Mbah Djalil semasa hidup, didokumentasikan dalam bentuk buku yang akan dilaunching pada Haul Akbar di Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) Tulungagung, Ahad (24/09/2017) nanti. Buku berjudul: “Jejak-jejak Mbah Djalil, Manaqib Asy Syekh Abdul Djalil Mustaqim (1942-2005)” itu ditulis salah seorang murid Pondok PETA asal Blitar, Purnawan Buchori.

Semua “kurikulum” tersebut, menurut Purnawan, telah Mbah Djalil sampaikan kepada murid-murid beliau dengan tiga cara. Antara lain pertama, memberikan contoh langsung dengan khaliyah (perbuatan) dan amaliyah sehari-hari. Kedua, melalui ucapan dan dawuh yang beliau sampaikan dengan cara sangat halus. Dan ketiga, melalui tulisan-tulisan yang terpampang di berbagai sudut di Pondok PETA.

Dengan adanya buku ini, diharapkan bagi para murid Pondok PETA yang belum sempat mengetahui adanya “kurikulum” itu menjadi tahu dan bisa menapaki jejak-jejak beliau. “Penulis berusaha menuliskan semua yang pernah beliau sampaikan kepada penulis ditambah masukan dari beberapa narasumber yang cukup dekat dengan beliau,” demikian Purnawan dalam pengantar buku Mbah Djalil.

Buku yang diterbitkan Pondok PETA Tulungagung setebal 198 halaman itu, menyusul tiga buku sebelumnya yang juga ditulis Purnawan. Yakni “Manaqib Sang Quthub Agung, Sejarah Kehidupan Sulthonul Auliya’is Sayyidisy Syekh Abil Hasan asy Syadzily (593-656 H./1197-1258 M.)” setebal 104 halaman terbitan 28 Mei 2005.

Setahun lalu, tepatnya saat Haul Akbar Pondok PETA 2 Oktober 2016, Purnawan meluncurkan buku kedua setebal 164 halaman. Yakni buku mengulas manaqib Al Maghfurlah Hadlratus Syekh Mustaqim bin Husein yang berjudul: “Perjalanan Sang Pendekar, Manaqib Syekh Mustaqim bin Husein (1901-1970), Pendiri Pondok PETA Tulungagung”.

Buku-buku tersebut, termasuk buku tentang Mbah Djalil, dapat diperoleh di Pondok PETA Tulungagung. Diantaranya melalui Ustadz Abdul Wasik, pengurus Pondok PETA. “Insya Allah hari Jum’at (22/09/2017), buku Mbah Djalil sudah tersedia di kantor pondok dan pada hari H pelaksanaan haul, sudah tersedia di stand dekat alun-alun Tulungagung,” kata Ustadz Wasik. (ufi/pondokpeta.id)