Review Buku: Manaqib Mbah Djalil

Buku-buku yang ditulis oleh H. Purnawan Buchori. (ufi/pondokpeta.id)

MEMBACA buku “Jejak-jejak Mbah Djalil: Manaqib Asy Syekh Abdul Djalil Mustaqim (1942-2005), Pengasuh Pondok PETA Tulungagung”, akan menjawab kebutuhan informasi publik tentang kehidupan seorang tokoh masyarakat yang patut diteladani. Buku yang ditulis oleh H. Purnawan Buchori itu, sarat dengan kisah keseharian Mbah Djalil, Mursyid Thoriqot Syadziliyah, Qodiriyah, dan Qodiriyah wan Naqsyabandiyah.

Dimulai dari kehidupannya sebagai seorang santri, Syekh Abdul Jalil meneladani perilaku untuk  memuliakan guru. Kala berguru kepada Syekh Ahmad Djazuli bin Utsman, pendiri dan pengasuh pertama PP. Al Falah Ploso, Kediri, Syekh Abdul Jalil memiliki kebiasaan membalikkan terompah sang kiai dari semula terompah mengarah kedalam kemudian diarahkan keluar. Ini dilakukan Mbah Djalil saat Kiai Djazuli ke masjid atau di ndalem (rumah).

Membalikkan terompah itu memiliki makna agar Kiai Djazuli tidak mengalami kesulitan saat memakainya. Saking seringnya melakukan itu, manakala ayahanda KH. Zainuddin Djazuli, alm KH. Chamim Djazuli (Gus Miek), dan KH. Nurul Huda Djazuli ini masuk ke masjid, dan ketika keluar tidak mendapati terompahnya terbalik, maka Kiai Djazuli akan berujar, “Gus Djalil opo lagi muleh?” (Gus Djalil apa sedang pulang?).” (Jejak-jejak Mbah Djalil, hal 8).

Dalam mencari ilmu, sosok Syekh Abdul Djalil meneladankan totalitasnya dengan laku riyadloh baik secara lahir maupun batin. Dikisahkan, kala berguru ke Syekh Khudlori bin Muhammad Hasan, Malangbong, Garut, Syekh Abdul Djalil melakukan riyadloh dengan tidak melihat langit selama tiga bulan. Beliau juga ditugaskan oleh gurunya berwudhu di lokasi berjarak radius 3 kilometer tanpa alas kaki, dengan posisi kepala yang tertunduk.

Perintah gurunya tersebut, dilakukan Mbah Djalil dengan ikhlas tanpa mengeluh. Kelak di kemudian hari, Syekh Abdul Djalil mendapati makna bahwa riyadloh menundukkan kepala tanpa mendongak ke langit, adalah ajaran agar selalu tawadhuk, baik sebagai hamba Allah maupun kepada sesama.

Terbukti, tatkala Syekh Abdul Djalil menjadi kiai besar, ketawadhuannya tak pernah pudar seiring dengan berkibarnya nama beliau dalam pergaulan skala nasional. Syekh Abdul Djalil menerima dan merangkul semua kalangan, baik masyarakat strata kelas atas maupun kelas bawah. Syekh Abdul Djalil tidak pernah membedakan antar satu dengan yang lainnya. Semua dilayani dengan sebaik-baik pelayanan.

Penulis buku ini, Purnawan Buchori mendedahkan dengan apik, kisah-kisah Syekh Abdul Djalil yang melayani semua kalangan. Misalnya saja, kisah Mbah Djalil menemani Presiden HM. Soeharto dikala detik-detik menuju lengser keprabon, kisah konsultasinya Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kepada Mbah Djalil tentang kemelut di tubuh jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) di masa orde baru, pembentukan Anak Nahdlatul Ulama (ANU), nasehat Syekh Abdul Djalil kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kisah bergurunya orang-orang “pusat” kepada  Mbah Djalil, kisah perjuangan mendirikan lembaga bantuan hukum, dan lain-lain.

Diantara kisah “melayaninya” Syekh Abdul Djalil kepada umat yang menurut saya sangat penting diteladani, adalah kebiasaan setiap ba’da subuh. Sambil berolah raga mengelilingi Kota Tulungagung, Mbah Djalil juga membagi-bagikan uang kepada kaum fakir miskin. Apabila uangnya belum habis, maka beliau bersama istrinya, Nyai Hj. Umi Zahro Abdul Djalil, melanjutkan perjalanan dan menemui orang-orang miskin hingga uangnya habis.

Tak hanya itu Syekh Abdul Djalil juga melayani umat dengan memberikan berbagai keperluan kepada siapa saja yang membutuhkan. Purnawan Buchori menuturkan, pernah suatu kali, Syekh Abdul Djalil diberi uang Rp. 20 juta oleh seseorang. Maka pada malam itu juga, uang itu ludes. Habis tak tersisa, dibagikan kepada orang-orang membutuhkan.

Syekh Abdul Djalil juga memiliki kebiasaan sholat Jum’at berkeliling di masjid di desa-desa. Beliau kemudian memberi sumbangan dalam jumlah besar kepada masjid-masjid desa itu. Lebih-lebih kepada masjid yang sedang dibangun atau direnovasi. Tak segan, Syekh Abdul Djalil melalui utusan, mengirim uang segepok, tanpa mengaku siapa pengirimnya ketika ditanya takmir masjid.

Keteladanan, pergaulan, dan pembelaan kepada orang lemah, menjadikan Syekh Abdul Djalil menjadi “bapak”bagi banyak manusia. Menjadi khodimul ummat (pelayan umat). Banyak kiai dan tokoh-tokoh besar berbaiat kepada Syekh Abdul Djalil. Purnawan Buchori dalam buku ini juga mengisahkan perjalanan spiritual kiai-kiai besar kala bertemu dengan sosok Mbah Djalil.

Kisah bergurunya KH. Moch. Djamaluddin Achmad, Tambakberas, Jombang, kepada Mbah Djalil. (ufi/pondokpeta.id)

Diantaranya KH. Moch. Djamaluddin Ahmad, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menambatkan baiatnya kepada Syekh Abdul Djalil, setelah mencari dan memilih guru ruhani kemana-mana. Pun dengan KH. Abdul Wahid Zuhdi, Pengasuh Pondok Pesantren Fadllul Wahid, Ngangkrung, Bandungsari, Grobogan, mantap berbaiat setelah mengetahui kedalaman ilmu Mbah Djalil melampaui pengetahuan ulama ahli syariat pada umumnya.

Maka menjadi maklum, kala Mbah Djalil kembali ke Rahmatullah, banyak umat merasa kehilangan. Ribuan orang hadir dalam prosesi pemakaman Syekh Abdul Jalil. Purnawan Buchori menggambarkan secara detail dari tanda-tanda berpamitannya beliau, detik detik meninggalnya, kabar yang menyebar, prosesi pengurusan jenazah, berduyun-duyunnya ribuan santri dari penjuru daerah yang meneteskan air mata, serta pengaturan proses pemakaman agar tidak saling berebut. Purnawan Buchori menceritakan dengan sentuhan sisi emosionalnya. Sehingga siapapun yang membaca akan bisa teraduk-aduk sisi emosinya.

Menurut saya, keberhasilan Purnawan Buchori dalam menulis buku ini, adalah ia mampu mendedahkan kisah Syekh Abdul Djalil dari dekat. Selain kisah-kisahnya dituturkan secara langsung oleh Syekh Abdul Djalil kepada Purnawan Bukhori sendiri, juga kisah kesaksiannya sendiri melihat pribadi serta kekeramatan dari Mbah Djalil.

Syekh Abdul Djalil, berdasarkan pengakuan Purnawan Buchori, memiliki keakraban dengan keluarganya yang tinggal di Kota Blitar. Sehingga dari keakraban itu, Purnawan Buchori mampu memotret dari jarak dekat sosok Mursyid Thoriqot Syadziliyah yang memiliki ribuan murid dari berbagai pelosok daerah.

Buku ini sangat layak untuk dibaca dan ditindaklanjuti dalam kisah-kisah yang lain. Sebagaimana penuturan Purnawan Buchori dalam sambutannya pada puncak peringatan Haul Akbar Hadlrotus Syekh Mustaqim bin Husein ke-48, Nyai Hj. Sa’diyah Mustaqim binti H. Rois ke-30 dan Hadlrotus Syekh Abdul Djalil Mustaqim ke-13, Ahad 24 September 2017, bahwa ia ketika menulis, seakan masih banyak yang belum ditulis.

Semoga buku-buku berikutnya dapat ditulis Purnawan Bukhori. Sehingga masyarakat umum, bisa menyerap informasi dan mampu mengamalkan khaliyah dari sosok Syekh Abdul Djalil bin Mustaqim. Buku ini dapat diperoleh dengan menghubungi Pengurus Pondok PETA Tulungagung, Ustadz Abdul Wasik. Selamat membaca! (pondokpeta.id)

Pereview: Isno (Kontributor/SA78 Titik Jabon, Mojoanyar, Mojokerto)
Alamat: Dusun Jogodayoh, Desa Jabon, Mojoanyar, Mojokerto
Pos-mail : isnobisa@gmail.com