Memanfaatkan Waktu Dengan Merajut

Ning Niken Maya Sari tengah merajut. (istimewa)

TULUNGAGUNG — Tanpa melupakan tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga, perempuan tetap bisa berkarya. Bahkan, karyanya dapat menghasilkan uang jika dipasarkan. Ini yang ditunjukkan Ning Niken Maya Sari, murid Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) Tulungagung.

Sejak 2016, Ning Maya –demikian isteri Ketua Program Sultan Agung 78 Pusat Agus Kharir Muhammad Fairuza ini biasa disapa, aktif merajut. Keterampilan yang dipelajari secara otodidak sejak masih usia Sekolah Dasar (SD), kini ditekuni Ning Maya disela-sela mengasuh dua orang putranya.

Berbagai jenis hasil rajutan telah dihasilkan dari tangan terampil Ning Maya. Diantaranya tas, dompet, kopyah, bandul kunci sepatu, dan tempat tisu. Ning Maya merajut dengan memanfaatkan bahan-bahan seperti benang nilon, polyseri dan polyester, serta kain katun.

Hasil produksi rajutan itu dijual secara online. Harganya kisaran Rp. 30 ribu hingga Rp. 600 ribu. “Pemasaran secara online karena jangkauan lebih luas. Tetapi pemasaran secara konvensional juga berjalan,” kata Ning Maya kepada pondokpeta.id yang mewawancarai beliau saat berada di Blitar, Senin (09/10/2017) malam.

Hasil produksi kerajinan rajut yang dihasilkan Ning Niken Maya Sari. (istimewa)

Ning Niken menekuni keahlian merajut dalam rangka memberikan contoh pemberdayaan ekonomi murid Pondok PETA, khususnya kaum perempuan. Bahkan, keterampilan merajut telah menjadi salah satu andalan kurikulum pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sultan Agung 78.

“Merajut ini dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi murid PETA. Sekarang bahkan dijadikan kurikulum untuk pembelajaran keahlian bagi siswa PKBM Sultan Agung 78. Agar ketika sudah bisa merajut, mau membuat karya rajut sendiri dan dijual yang bisa menguntungkan,” papar menantu Hadlrotus Syekh Abdul Djalil Mustaqim ini.

Tumpukan benang untuk merajut. (istimewa)
Tas tenteng dan tas perempuan hasil rajutan. (istimewa)

Ning Maya berpesan kepada kaum perempuan khususnya, agar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dengan tetap melaksanakan kewajiban berbakti kepada suami dan mengurus anak, masih ada waktu luang yang dapat digunakan untuk berkarya positif.

“Intinya, jangan malas. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Tetap produktif dan berkarya, tanpa melupakan kewajiban sebagai perempuan. Karena merajut bisa dilakukan sambil lihat televisi,” demikian Ning Maya yang asli Grobogan, Jateng. (ufi/pondokpeta.id)

Reportase: Muhammad Dzulkifli Al-Blitary