Berangkat Jum’at Wage Demi Cinta

Iskandar Mukti tengah santap sahur saat suluk di Pondok PETA, Mei 2017. (ufi/pondokpeta.id)

TANGERANG SELATAN — Baru sembilan hari, Iskandar Mukti, S.Psi berada di rumahnya di bilangan Tangerang Selatan, Banten. Tapi Rabu (04/10/2017) hari ini, ia bergerak kembali menuju Kota Tulungagung, Jatim.

Ismu, begitu Iskandar Mukti akrab disapa, baru pulang dari tabarukan menghadiri Haul Akbar Hadlrotus Syekh Mustaqim bin Husein ke-48, Nyai Hj. Sa’diyah Mustaqim binti H. Rois ke-30, dan Hadlrotus Syekh Abdul Djalil Mustaqim ke-13 yang dihelat di Pondok Pesulukan Thoriqot Agung (PETA) Tulungagung, Ahad (24/09/2017) pekan lalu. Selama dua hari, ia berada di Tulungagung bersama ratusan ribu saudara-saudara sepermursyidan dari berbagai penjuru dunia.

“Sudah mau ke Tulungagung lagi?,” begitu ibunda Ismu bertanya dengan sorot mata keheranan. Kepada pondokpeta.id, Ismu yang lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan pertanyaan ibundanya saat pamit berangkat sore ini.

Naik kereta api ekonomi Matarmaja dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Ismu berangkat ke Pondok PETA kali ini dalam rangka mengikuti agenda rutin Tahlil dan Burdah. Acara ini tertulis dan ditandai khusus setiap Jum’at Wage di kalender Pondok PETA. Serupa dengan Jum’at Kliwon yang juga bertanda khusus.

“Meski uang tak punya, bukan berarti pinjaman tak ada. Ini bukan mengada-ada. Ini soal cinta. Alhamdulillah, saya digerakkan oleh Allah SWT dengan limpahan barokah Guru Mursyid untuk bisa berangkat ke Tulungagung untuk Jum’at Wage,” kata Ismu.

Tiket KA Matarmaja yang membawa Iskandar Mukti ke Tulungagung. (istimewa)

Mantan kader inti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini memang tak seperti dulu. Penghasilannya tidak melimpah seperti saat dulu aktif “main” tender, dan menjadi narasumber perkoperasian di sejumlah instansi.

Ismu yang tergabung dalam Kelompok Pondok Cabe, Tangerang Selatan, mantap meninggalkan pekerjaan terkait proyek pemerintah sejak menjadi murid thoriqot Pondok PETA. Ia sekarang memilih berdagang kecil-kecilan.

Pada malam Jum’at Wage, digelar agenda rutin Tahlil dan Burdah di Pondok PETA. Acara ini menandai wafatnya Hadlrotus Syekh Abdul Djalil Mustaqim tanggal 7 Januari 2005 lalu, yang bertepatan dengan hari Jum’at Wage. (ufi/pondokpeta.id)