Pelajaran Lelaki Setengah Tua

Mbah Mahfudz berbincang dengan anggota Sultan Agung 78 asal Blitar. (ufi/pondokpeta.id)

TULUNGAGUNG — Tiba-tiba saja datang seorang lelaki paro baya. Bertopi dan menuntun sepeda kayuh cap Phoenix. Disandarkannya sepeda butut itu didepan musholla sebelah Kantor Pusat Sultan Agung 78, Jl. KH. A. Wachid Hasyim, Kauman, Tulungagung.

Jum’at (27/10/2017) siang, pria itu menghampiri Ketua Program SA78 Agus Kharir Muhammad Fairuza yang tengah berbincang dengan beberapa anggota SA78 dari Lamongan dan Blitar didepan musholla. Gus Fariz menyalami pria yang mengenakan kaos lusuh abu-abu bercelana jeans biru.

Tanpa canggung, Gus Fariz mengajak lelaki itu berbincang. Menyapanya dan menawarkan minum serta mempersilahkan istirahat.

Beliau Gus Fariz tidak kenal pria itu. “Ilmu itu tidak saja datang dari seorang berpredikat guru. Ilmu dapat datang dari siapa saja. Meskipun penampilannya biasa, dan tidak terlihat seperti orang terhormat,” ungkap Gus Fariz.

Agak lama, Gus Fariz berbincang dengan lelaki tersebut. Ungkapan tentang laku syariat, thoriqot dan hakikat meluncur lancar dari lisan pria itu.

Gus Fariz menyimak dan merespon positif kalimat yang disampaikan lelaki itu. “Allah maringi (menganugerahi) ilmu kepada orang tersebut. Lalu menularkannya kepada orang lain,” jelas alumnus Pondok Pesantren Fadllul Wahid, Ngangruk, Grobogan, ini.

“Islam yo Islam. Jangan ngomong Islam tapi kelakuane ora Islam. Ngaku Islam kuwi, karo kabeh wong kelakuane apik. (Mengaku beragama Islam, harus berbuat baik kepada semua orang),” jelas Gus Fariz.

Usai berbincang dengan Gus Fariz, laki-laki itu pamit menuju Pondok PETA. Ia bermaksud ziarah ke maqbaroh Hadlrotus Syekh Mustaqim bin Husein dan Hadlrotus Syekh Abdul Djalil Mustaqim.

Sepeda butut disandarkan didepan musholla Kantor Pusat Sultan Agung 78. (ufi/pondokpeta.id)

Menjelang sore, pria itu kembali ke musholla Kantor Pusat SA78. Ia mengaku bernama Mahfudz asal Bangoan, Tulungagung. Usianya 62 tahun.

Kepada pondokpeta.id, Mbah Mahfudz berguru ke Mbah Djalil tahun 1989. “Kulo (saya) terbiasa sejak kecil memanggil Mbah Djalil itu dengan sapaan Makdhe,” katanya.

Menurut Mbah Mahfudz, figur Mbah Djalil patut diteladani salah satunya dalam hal kesabaran. “Beh, Makdhe (Mbah Djalil) niku jian sabare masya Allah. Weruh nopo mawon meneng. Ndak weruh yo meneng. (Mbah Yai Djalil itu sabar sekali. Tahu apa saja diam. Tidak tahu juga diam,” ungkapnya.

Asy Syekh Abdul Djalil Mustaqim, lanjut Mbah Mahfudz, juga tidak pilih-pilih kawan bergaul. “Kuabeh niku dirangkul. Mboten pilah-pilih. Kathah sing inut. Maune abang dadi ijo. Maune ijo dadi putih. (Semuanya dirangkul, tidak pilih-pilih golongan, asal dan penampilan. Akhirnya banyak yang menjadi murid beliau. Yang asalnya merah jadi hijau. Yang hijau jadi putih,” ungkapnya. (ufi/pondokpeta.id)